” Ini kantor atau rumah, kenapa ada tempat tidur disini” tanya Adit salah seorang aktivis mahasiswa saat itu, dan ketika ditanya kemana berkas-berkas yang berada dilemari kerja para pegawai, antek-antek Zahara tidak dapat mengatakannya.
Aksi semakin memanas saat salah seorang antek-antek Zahara dengan sengaja mematikan aliran listrik, ketika kelima pegawai ingin mencari data mereka di komputer. “Lampu dimatikan…. Lampu dimatikan” ujar Dian Marwa yang melihat salah seorang antek-antek Zahara yang diketahui bernama Reza yang merupakan keponakan kandung dari kepala BNNK Asahan.
“Ini kantor atau rumah pribadi, kenapa yang berada disini keluarga besar AKBP Zahara, apa mereka menganggap kantor ini adalah rumah pribadi,sehingga suami, anak, ponakan, beserta keluarga besarnya bisa tinggal disini dan bertindak semena-mena dikantor milik asset pemkab Asahan ini” teriak Halim Saragih ketua AMAK Asahan.
Dengan membawa berbagai atribut dan selebaran, kelima pegawai BNNK Asahan dan aktifis mahasiswa berkonvoi beriringan menuju kantor Bupati Asahan dan melakukan orasi.
Pantauan Kompasiana, para aktifis yang tergabung dalam solidaritas mahasiswa Asahan peduli BNNK Asahan juga membagikan selebaran yang berisikan mempertanyakan kapasistas Dedek Erdina Wirza di BNNK Asahan yang telah mengusir pegawai yang dipekerjakan di BNNK Asahan. Kemudian mendesak BNNP Sumut dan polres Asahan memerintahkan Sat Narkoba untuk melakukan tes urine, pigman rambut dan darah kepada Kepala BNNK Asahan beserta keluarganya.
” Meminta BNNK Asahan transfaran dalam pengelolaan anggaran, serta mendesak DPRD Asahan segera memanggil semua pihak dalam permasalahan tersebut, Ujar halim saragi. (heri)
Tidak ada komentar:
Posting Komentar